Di balik tembok pembatas, semangat perubahan justru tumbuh. Warga binaan perempuan tampak antusias mengikuti rangkaian kegiatan, mulai dari peresmian hingga tausiyah Ramadan.
Kepala Lapas Perempuan Pangkalpinang, Rina Stiari, mengaku terharu melihat keteguhan para warga binaan yang menjalani masa pembinaan jauh dari keluarga.
“Mereka meninggalkan anak dan suami. Itu tidak mudah. Tapi mereka tetap tersenyum dan semangat. Ini yang terus kami jaga,” ujarnya.
Kepala Kementerian Agama Kota Pangkalpinang, Firmantasi, menegaskan Rumah Tahfidz bukan sekadar tempat menghafal Al-Qur’an, melainkan ruang pembentukan karakter.
“Ramadan adalah waktu terbaik memperbaiki diri. Al-Qur’an menjadi fondasi saat mereka kembali ke masyarakat,” katanya.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Pangkalpinang, Dessy Ayutrisna, yang hadir mewakili Wali Kota, mengaku tersentuh melihat keceriaan warga binaan.
“Saya melihat langsung ibu-ibu tetap semangat. Insya Allah nanti kembali ke keluarga sebagai pribadi yang lebih baik,” ujarnya.
Dessy menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk terus mendukung pembinaan, termasuk pelatihan keterampilan dan program kreatif bagi warga binaan.
“Harapannya, mereka pulang dengan bekal nyata untuk mandiri,” tegasnya.
Acara ditutup dengan tausiyah yang mengajak warga binaan membangun kecantikan dari dalam diri. Peresmian Rumah Tahfidz Az-Zikra pun menjadi simbol harapan baru bahwa di balik jeruji, tetap ada cahaya perubahan dan kesempatan untuk bangkit. (LN/007)






