
SUMARWAN, S.E., C.BJ., C.EJ., C.In., C.Par., C. STMI.
Pimpinan Redaksi lopanNews. Com
Bangka Belitung pernah berdiri tegak sebagai negeri lada—komoditas yang bukan hanya menghidupi, tetapi juga memberi identitas. Lada adalah kebanggaan, warisan, dan simbol ketahanan ekonomi masyarakat. Namun hari ini, kejayaan itu perlahan pudar, seolah ditelan zaman yang bergerak tanpa arah yang jelas.
Perubahan lanskap ekonomi terjadi begitu cepat. Dari kebun lada yang dulu mendominasi, kini berganti menjadi hamparan sawit yang terus meluas. Pergeseran ini bukan sekadar tren, tetapi cerminan kegelisahan petani yang lelah menghadapi ketidakpastian harga dan minimnya perhatian negara terhadap komoditas lada.
Sawit hadir sebagai jawaban instan. Ia menawarkan kepastian, kemudahan, dan hasil yang dianggap lebih menjanjikan. Dalam situasi ekonomi yang mendesak, pilihan itu terasa rasional. Namun, di balik itu, ada harga mahal yang perlahan dibayar: hilangnya keberagaman komoditas, rusaknya ekosistem, dan ketergantungan pada satu sektor yang rentan terhadap fluktuasi global.
Sementara itu, timah tetap menjadi tulang punggung ekonomi Bangka Belitung. Dari darat hingga laut, aktivitas penambangan terus berlangsung tanpa henti. Bagi sebagian masyarakat, timah adalah penyelamat. Ia memberi penghasilan cepat di tengah keterbatasan pilihan ekonomi lain.
Namun, ketergantungan pada timah adalah pedang bermata dua. Ia menciptakan ilusi kesejahteraan, tetapi di saat yang sama menggerus lingkungan dan masa depan. Lubang-lubang tambang menjadi saksi bisu dari eksploitasi yang nyaris tak terkendali.
Lebih jauh lagi, timah dari Bangka Belitung tidak sepenuhnya memberi manfaat maksimal bagi daerah. Nilai tambahnya banyak dinikmati di luar, bahkan hingga ke negeri seberang. Daerah hanya kebagian sisa, sementara kerusakan lingkungan ditanggung sendiri oleh masyarakat lokal.
Di tengah kondisi ini, lada semakin tersingkir. Tidak ada strategi besar untuk menghidupkan kembali komoditas ini. Petani yang tersisa berjuang sendiri, tanpa dukungan serius dalam hal harga, teknologi, maupun akses pasar.
Padahal, lada memiliki potensi besar jika dikelola dengan benar. Ia bisa menjadi komoditas unggulan yang berkelanjutan, bernilai tinggi, dan ramah lingkungan. Sayangnya, potensi itu seperti diabaikan, kalah oleh logika ekonomi jangka pendek.
Fenomena ini menunjukkan kegagalan dalam merancang arah pembangunan daerah. Tidak ada keseimbangan antara eksploitasi sumber daya dan keberlanjutan. Kebijakan yang ada terkesan reaktif, bukan strategis.
Masyarakat akhirnya berjalan sendiri. Mereka memilih apa yang paling mungkin untuk bertahan hidup. Dari lada ke sawit, lalu ke timah—semua adalah bentuk adaptasi terhadap keadaan, bukan hasil dari perencanaan yang matang.
Ironisnya, dalam kondisi seperti ini, rasa memiliki terhadap tanah dan lingkungan mulai terkikis. Ketika semua diukur dari keuntungan jangka pendek, maka yang hilang adalah kesadaran untuk menjaga warisan bagi generasi berikutnya.
Bangka Belitung kini berada di persimpangan penting. Jika terus bergantung pada sawit dan timah tanpa kontrol, maka krisis lingkungan dan ekonomi hanya tinggal menunggu waktu. Jika lada tidak segera dihidupkan kembali, maka identitas daerah ini akan benar-benar hilang.
Diperlukan keberanian untuk mengubah arah. Pemerintah daerah harus hadir dengan kebijakan yang berpihak pada petani, menghidupkan kembali lada sebagai komoditas strategis, sekaligus mengendalikan ekspansi sawit dan penambangan timah.
Tidak cukup hanya dengan wacana. Harus ada langkah nyata: insentif bagi petani lada, penguatan hilirisasi, perlindungan harga, hingga penegakan hukum terhadap tambang ilegal.
Lebih dari itu, masyarakat juga perlu diajak untuk melihat masa depan secara lebih luas. Bahwa kesejahteraan tidak hanya diukur dari penghasilan hari ini, tetapi juga dari keberlanjutan hidup di masa depan.
Jika tidak ada perubahan, maka Bangka Belitung akan terus berada dalam lingkaran eksploitasi: mengeruk, menjual, lalu kehilangan. Sebuah siklus yang melelahkan dan merugikan.
Pada akhirnya, pilihan ada di tangan kita semua. Apakah akan terus mengejar keuntungan sesaat, atau mulai membangun fondasi ekonomi yang kuat, berkelanjutan, dan berakar pada identitas sendiri.
Karena jika lada sudah hilang, tanah sudah rusak, dan timah telah habis—maka yang tersisa hanyalah penyesalan.
(LN/007)@SUMARWAN
Catatan Redaksi :
Keseluruhan artikel/tajuk opini ini menjadi tanggung jawab penulis dan redaksi, sekiranya ada para pihak yang merasa dirugikan atau keberatan dalam penyajian maupun penulisan, anda dapat mengirimkan artikel atau sanggahan/koreksi kepada redaksi. Sebagaimana perihal tersebut diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang No. 40 Tahun 1999 tentang Pers.
Sanggahan artikel dapat dikirimkan melalui email atau nomor WhatsApp redaksi sebagaimana tertera pada box redaksi.
Salam
LopanNews.Com






