Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa arah pembinaan warga binaan kini tidak lagi sekadar pembatasan, melainkan menuju pemberdayaan dan kemandirian.
Di hadapan ratusan warga binaan, Hidayat menegaskan bahwa program pengolahan pupuk bukan kegiatan simbolis, tetapi strategi nyata untuk membekali keterampilan hidup.
“Di sinilah mereka belajar bekerja, membangun keterampilan, dan mempersiapkan masa depan. Kita ingin saat mereka kembali ke masyarakat, mereka tidak lagi bergantung,” tegasnya.
Program ini turut menggandeng PLTU 3 Bangka dalam memanfaatkan limbah non-B3 menjadi pupuk yang memiliki nilai guna dan potensi ekonomi.
Kolaborasi ini dinilai sebagai contoh konkret sinergi antara pemerintah, lapas, dan sektor industri dalam menciptakan ekosistem pembinaan yang produktif.
Tak hanya fokus pada produktivitas, Gubernur juga menunjukkan kepedulian terhadap kebutuhan dasar dengan menyerahkan bantuan pribadi berupa sumur bor.
Fasilitas ini diharapkan mampu memenuhi kebutuhan air bersih bagi sekitar 800 warga binaan di Lapas Tuatunu.
“Air adalah kebutuhan utama. Dengan ini, kualitas hidup dan aktivitas warga binaan akan jauh lebih baik,” ujarnya.
Kepala Lapas Kelas IIA Pangkalpinang, Sugeng Indrawan, menyebut bantuan tersebut sebagai energi baru bagi penguatan program pembinaan.
“Ini bukan hanya bantuan, tetapi bentuk kepercayaan bahwa warga binaan mampu berubah dan berkarya,” katanya.
Peresmian ditandai dengan pengguntingan pita dan penyerahan bantuan secara simbolis, lalu ditutup dengan sesi foto bersama.
Kegiatan ini bukan sekadar agenda seremonial. Dari tempat yang selama ini dipandang terbatas, kini lahir produktivitas, kemandirian, dan harapan baru bagi masa depan para warga binaan. (LN/007)






