Radikalisme Digital Mengintai Anak Muda, Densus 88 Edukasi Santri Belitung

LOPANNEWS, TANJUNGPANDAN – Densus 88 Antiteror Polri mengingatkan para santri di Kabupaten Belitung untuk mewaspadai penyebaran paham intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme (IRET) melalui media sosial hingga game online.

Peringatan tersebut disampaikan Tim Pencegahan Satgaswil Kepulauan Bangka Belitung (Babel) Densus 88 AT Polri saat menggelar sosialisasi wawasan kebangsaan di Pondok Pesantren (Ponpes) At Taqwa Aik Ketekok, Kecamatan Tanjungpandan, Kabupaten Belitung, Jumat (6/11/2026).

Mengangkat tema pencegahan IRET dan tren radikalisasi digital di kalangan anak dan remaja, kegiatan ini bertujuan meningkatkan kewaspadaan generasi muda terhadap berbagai pengaruh negatif di ruang digital.

Dalam sosialisasi tersebut, personel Tim Pencegahan Satgaswil Babel Densus 88 AT Polri, IPDA Dian Effendi, S.H., dan BRIPTU Ambi, S.H., memberikan pemahaman mengenai bahaya intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme.

Para santri dijelaskan mengenai proses radikalisasi hingga pola perekrutan yang dapat memanfaatkan media sosial, propaganda digital, serta permainan daring atau game online.

Menurut materi yang disampaikan, anak dan remaja menjadi kelompok yang perlu mendapatkan perhatian dan pendampingan, terutama ketika berhadapan dengan konten provokatif, narasi kebencian, maupun ajakan kekerasan di internet.

Karena itu, peserta diingatkan agar tidak mudah percaya terhadap informasi yang beredar di media sosial. Kemampuan memilah informasi dan literasi digital menjadi bekal penting untuk mencegah pengaruh paham ekstrem.

Densus 88 Soroti Perekrutan Terorisme Lewat Medsos

Tak hanya membahas radikalisasi digital, Densus 88 juga mengingatkan adanya potensi penyalahgunaan platform digital untuk menjangkau dan memengaruhi kalangan muda.

Peserta diajak mengenali komunikasi mencurigakan, terutama yang berisi ajakan melakukan kekerasan, penyebaran kebencian terhadap kelompok tertentu, hingga konten provokatif yang berupaya memengaruhi seseorang.

Jika menemukan indikasi perekrutan atau ajakan mencurigakan, para santri dianjurkan berkonsultasi dengan orang tua, guru, atau pihak berwenang.

Bullying di Pesantren dan Sekolah Ikut Jadi Perhatian

Dalam kegiatan tersebut, persoalan perundungan atau bullying juga menjadi salah satu materi pembahasan.

Para santri diberikan pemahaman mengenai dampak psikologis perundungan serta pentingnya mengambil tindakan ketika menjadi korban maupun menyaksikan teman mengalami perlakuan serupa.

Mereka diimbau tidak membiarkan tindakan bullying terjadi di lingkungan pendidikan. Para pelajar juga didorong berani meminta bantuan kepada guru, orang tua, maupun orang dewasa yang dipercaya.

Lingkungan pendidikan yang aman, saling menghormati, dan bebas kekerasan dinilai menjadi bagian penting dalam membangun karakter generasi muda.

Santri Diajak Jaga Persatuan NKRI

Selain pencegahan IRET, sosialisasi tersebut juga memperkuat wawasan kebangsaan dan nilai nasionalisme di kalangan santri.

Narasumber mengajak para peserta menjauhi radikalisme, ekstremisme, dan segala bentuk kekerasan. Para santri juga diingatkan untuk menghormati perbedaan, mengedepankan toleransi, serta menjaga persatuan dalam kehidupan bermasyarakat.

Menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan tanggung jawab bersama, termasuk generasi muda sebagai penerus bangsa.

Kegiatan ini dihadiri pimpinan Ponpes At Taqwa Aik Ketekok, perwakilan Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DSPPPA) Kabupaten Belitung, serta perwakilan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Belitung.

Sosialisasi tersebut terlaksana melalui kolaborasi Tim Pencegahan Satgaswil Babel Densus 88 AT Polri bersama DSPPPA dan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Belitung.

Untuk memperluas edukasi pencegahan IRET, Tim Pencegahan Satgaswil Babel Densus 88 AT Polri juga memperkenalkan kanal media sosial resmi melalui Instagram, TikTok, Facebook, X, dan SnackVideo.

Masyarakat, termasuk kalangan pelajar, dapat memanfaatkan ruang diskusi dan tanya jawab melalui pesan langsung atau direct message (DM) Instagram @babelprevention.

Melalui kegiatan ini, sinergi aparat keamanan, lembaga pendidikan, dan pemerintah daerah diharapkan semakin kuat dalam mencegah penyebaran paham ekstrem.

Para santri pun diharapkan mampu menjadi pelopor perdamaian, menyebarkan nilai toleransi, serta ikut menjaga persatuan dan keutuhan NKRI. (LN/007)

Loading

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *