Secara tahunan (year on year/yoy), ekonomi Babel tumbuh 4,54 persen, sementara secara kumulatif sepanjang 2025 (c-to-c) tumbuh 4,09 persen.
Lonjakan pertumbuhan ini terutama ditopang sektor penyediaan akomodasi dan makan minum yang meroket hingga 22,68 persen (yoy), disusul jasa perusahaan 15,23 persen serta transportasi dan pergudangan 13,13 persen.
Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga dan pembentukan modal tetap bruto masih menjadi penopang utama. Sementara ekspor barang dan jasa terus menunjukkan kinerja kuat.
Namun, BPS juga mencatat sejumlah sektor masih mengalami tekanan. Industri pengolahan terkontraksi 0,44 persen, disusul pengadaan listrik dan gas yang turun 0,65 persen secara tahunan.
KEMISKINAN TURUN, GINI RATIO TERENDAH NASIONAL
Tak hanya ekonomi yang tumbuh, angka kemiskinan di Babel juga turun signifikan. Per September 2025, persentase penduduk miskin tercatat 4,77 persen, turun 0,23 persen poin dibanding Maret 2025.
Jumlah penduduk miskin menyusut menjadi 74,65 ribu orang, berkurang 3,06 ribu orang dalam enam bulan terakhir.
Capaian paling mencolok datang dari ketimpangan pengeluaran. Gini Ratio Babel tercatat 0,214, turun dari 0,222 dan menjadi yang terendah se-Indonesia.
Meski demikian, BPS mengingatkan garis kemiskinan Babel masih tergolong tinggi, mencapai Rp 992.426 per kapita per bulan, tertinggi kedua nasional setelah Papua Pegunungan.
PENGANGGURAN TURUN, PEKERJA INFORMAL MASIH DOMINAN
Di sektor ketenagakerjaan, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Babel pada November 2025 turun menjadi 4,30 persen. Jumlah penduduk bekerja naik menjadi 790,87 ribu orang, dengan peningkatan terbesar di sektor pertanian.
Namun, lebih dari 51 persen tenaga kerja masih berada di sektor informal, dan hampir 47 persen pekerja berpendidikan SMP ke bawah, menjadi tantangan serius pembangunan kualitas sumber daya manusia di Babel. (LN/007)





