LOPANNEWS, BANGKA BELITUNG – Seorang bayi berusia 11 bulan, asal Desa Kace Timur Kecamatan Mendo Barat Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka Belitung meninggal dunia. Al zahyan meninggal diduga karena ada kelalaian pihak Rumah Sakit Bakti Timah (RSBT), Pangkalpinang.
Penjelasan ibu korban, Ayi saat ditemui tim JMSI Babel dirumah duka, Selasa (2/9/2025), malam, menjelaskan kondisi yang dialami anaknya itu bermula pada Senin (1/9/2025), sekitar pukul 22.00 WIB.
Menurut Ayi, anaknya sempat mengalami gejala gejala mencret-mencret dan muntah. Melihat kondisi korban seperti itu, pihak keluarga kemudian membawa korban ke RSBT yang berlokasi di Jalan Jenderal Sudirman Nomor 51B Kota Pangkalpinang.
RSBT menjadi pilihan keluarga dengan harapan korban mendapatkan pelayanan dan pengobatan baik.
Setibanya di rumah sakit, orang tua Al zahyan mengurus administrasi, selang 30 menit, kemudian korban masuk ke ruangan UGD RSBT. Pada saat di UGD pasien sempat diperiksa oleh dokter, kemudian diajurkan agar anaknya dirawat inap.
“Setelah itu kami menunggu, kemudian anak kami dipasang infus. Anak saya itu aktif Pak, saat itu masih aktif dan saya digendong-gendong, kemudian saya baringkan di kasur. Karena dia sakit dia bolak-balik, lepas infus itu,”ujar Ayi didampingi suami, Ary Fianto.
“Saat itu saya langsung bilang ke suster tolong ganti infus (benari infus), sudah itu suster ngomong sesama (suster) agar infus dipasang orang atas, maksudnya biar perawat di ruangan atas yang memasang infus yang lepas,”ujar Ayi.
Ayi menjelaskan cukup lama dia bersama keluarga menunggu anaknya di ruangan UGD RSBT, namun belum juga anaknya akan dirawat di ruang inap anak yang berada di lantai atas. Saat itu kata Ayi, infus yang diduga lepas belum juga dipasang.
“Jeda waktu kami menunggu di UGD itu lama, sedangkan anakku kalau disitu ada CCTV mungkin bisa dilihat sudah belasan kali mengganti pempes. Saya rungsing (gelisah) karena lama menunggu. Ya Allah anak saya ini sudah mengeluarkan cairan banyak, sedangkan infus ini disuruh masang di atas,”terang Ayi.
Dijelaskan Ayi, sekitar pukul 02.00 WIB barulah petugas medis datang dan pasien dipindahkan dari ruangan UGD ke ruangan inap anak di lantai atas RSBT.
“Pas kami baru memasuki ruangan itu keluarlah satu orang suster, kemudian saya sampaikan kepada suster ’Bu ini dari UGD nama Al zahyan, kemudian dia menjawab ini kamarnya, setelah itu suster langsung pergi. Kemudian kami masuk sendiri ke kamar yang ditunjukkan suster tadi,”kenang Ayi.
Setelah mendapatkan ruangan, kondisi pasien belum juga stabil, sementara dijelaskan Ayie jarum infus yang sebelumnya lepas tak kunjung dipasang.
Beberapa saat kemudian, ada suster yang datang. Disini Ayi kembali menanyakan kepada suster kalau infus anaknya yang lepas belum dipasang.
“Sus anak saya ini infusnya, kemudian dilihat oleh suster terus di benari selang infus, tapi tidak dipasang jarum infus yang lepas itu,”tuturnya.
“Sudah itu badan anak saya mulai panas, gelisah, sakit, pucat, cekung, ada fotonya. Ya Allah kata saya,”terang Ayi.
“Kemudian datang suster, terus saya bilang sama suster Bu anak saya nua (serius) buang air besarnya sudah parah. Terus suster itu menjawab tidak bisa langsung sembuh, tidak bisa, bisa 3 hari, 4 hari,”sebut Ayi menirukan ucapan Suster tersebut.
“Dalam hati saya saat itu, kalau kondisi anak saya lebih baik tidak masalah, tapi inikan kondisinya makin memburuk,”ucap Ayi sambari melihat suster keluar ruangan.
Terus Suster datang lagi, kembali saya sampaikan anak saya kondisinya makin parah, lalu dijawab suster tidak apa-apa, biasa saja,”kata Ayi.
Setelah Suster keluar ruangan, dari pukul 02.00 WIB sampai dengan menjelang pagi tidak pernah datang lagi keruangan tempat korban dirawat. Disinilah Ayi melihat kondisi anaknya mulai pucat, mata cekung dan badannya menggigil.
“Saat itu saya berdoa, dan menenangkan diri saya sendiri. Saya melihat anak saya sudah pucat, cekung dan panas,”kata Ayi.
Melihat kondisi tersebut, Ayi kemudian memencet bel darurat yang ada di ruang pasien. Namun sayang meski sudah 100 kali memencet bel tidak ada satupun petugas medis yang datang.
“Sampai saya pencet – pencet tombol darurat dengan harapan aka ada tindakan medis, tapi tidak ada satu orangpun yang datang,”sambung Ayi lirih.
“Kemudian saya menghubungi suami saya, saya bilang kepada suami saya sudah 100 kali mencet tombol darurat tapi tidak ada yang datang. Kemudian saya menghubungi adik angkat saya untuk mencari perawat tapi dia bilang tidak ada perawatnya,”terangnya.
Ayi Bandingkan Pelayanan RSUD dan RSBT
“Anak saya juga pernah masuk rumah sakit umum. Di rumah sakit umum itu kalau jarum infus itu lepas langsung diperbaiki. Anakku itu sampai dicolok 5 sampai 8 kali sampai jarum itu masuk. Terus perawat di RSDH itu aktif datang melihat kondisi pasien. Kalau anak saya panas perawat langsung memberikan tindakan bukan dibiarkan, kalu di RSBT orang nganter obat, mereka tidak dijelaskan obat itu apa, eh mereka bilang tolong dikasih,”tutup Ayie.
Ayi juga tidak lupa mengucapkan terimakasih kepada Polresta Pangkalpinang yang telah memfasilitasi mobil jenazah untuk mengantar jenazah anaknya kerumah duka.
Sementara Direktur RSBT Pangkalpinang, dr. R. Agus Subarkah melalui Humas Derry Afrian dalam rilis diterima Suarapos.com (tim JMSI Babel) mengatakan, jika sejak pasien pertamakali mendapat perawatan, seluruh tim medis telah berupaya maksimal memberikan pertolongan sesuai prosedur dan standar pelayanan medis yang berlaku.
“Berbagai langkah penyelamatan telah dilakukan, dengan sepenuh hati namun Tuhan berkehendak lain,”tertulis dalam rilis tersebut.
“Kami memahami berapa besar rasa kehilangan dan kesedihan yang dirasakan keluarga. Dalam situasi ini, kami menghormati sepenuhnya privasi keluarga, sehingga kami tidak dapat menyampaikan detail media pasien demi menjaga kerahasian rekam medis serta mematuhi etika kedokteran,”jelasnya.
Sementara dalam proses pemulangan jenazah telah dilaksanakan dengan penuh penghormatan setelah seluruh prosedur medis dan administratif selesai.
“RSBT Pangkalpinang akan terus berkomitmen memberikan pelayanan kesehatan terbaik bagi seluruh masyarakat,”jelas dalam rilis itu.
Derry saat ditanya Suarapos.com terkait berapa jumlah perawat yang bertugas, dan berapa pasien yang masuk pada malam itu enggan memberikan jawaban secara rinci.
“Iya bang nanti kita telusuri lebih lanjut. Sampai saat ini kami lagi kumpulin data dan singkronisasi,”jawab Derry melalui pesan WhatsAap. (LN/Tim JMSI Babel)






